Menjemput Intelektual Indonesia

on Senin, 29 Desember 2008

“…Bahwa makna kehidupanku terlihat sepenuh-penuhnya dengan revolusi Indonesia dan renaisans bangsa Indonesia dalam segala lapangan kehidupan manusia. Dan sesuai dengan keyakinan ini saya rasa bahwa sudah tiba waktunya bagi saya untuk turut serta sepenuhnya dan secara kreatif di dalam penciptaan susunan dan isi kehidupan baru ini…”-Soedjatmoko-

Bangsa yang sarat kemajuan ialah bangsa yang membutuhkan visi. Ia serupa kekuatan seperti spirit yang mendorong perubahan. Visi menghasilkan etos. Laku hidup yang dinamis dan progresif menjadi hasilnya. Inilah buah pikiran yang selalu lahir dari cerlang pikiran almarhum Nurcholis Madjid : paling tidak membangun kembali Indonesia butuh satu generasi.

Satu generasi bukanlah waktu yang singkat . masa 20 tahun ialah waktu yang jika dimanfaatkan sebaik mungkin niscaya menelurkan kualitas prima. Lihat kenyataan negeri jiran Malaysia, hanya membutuhkan satu generasi untuk mengejar ketertinggalan, lalu meninggalkan Indonesia yang dulu pernah menjadi “kakak” pendidikan. Kita? Teringgal sehasta: sehasta ide, sehasta visi. Malaysia punya ideal 2020, Indonesia terbayang oleh deviasi banyak harap, namun tumpul visi.

Revitalisasi keindonesiaan, dengan demikian butuh kerja keras selama satu generasi ke depan. Bukan hanya transisi demokrasi yang sarat dengan perubahan institusional dan kultural kebangsaan, namun juga perubahan secara “radikal” mengenai negara-bansa secara holistik. Untuk itu, mentransformasi Indonesia berawal dari kepemimpinan yang prima. Kepemimpinan prima tak akan tercapai kecuali dengan menyediakan jejaring kepemimpinan pemuda.

Kunci utama pembangunan bangsa adalah kepemimpinan pemuda. Tiap perubahan zaman selalu dimulai dengan barisan pemuda yang visioner, berani, pantang menyerah, dan tak hirau dengan gemerlap imbal jasa maupun popularitas. Kita teringat, sejarah menulis Kebangkitan nasional 1908, Sumpah Pemuda 1928, Kemerdekan RI 1945, Angkatan 1966, Peristiwa malari 1974, Gerakan Reformasi 1998, sebuah deretan noktah sejarah pemuda yang gemilang bagi tegaknya peradaban. Bukan hanya semangat perlawanan kritis, tapi lebih dari itu menyimpan sebuah spirit jiwa merdeka dan mampu menerobos zaman.

Kini kita butuh entitas pemuda yang merapatkan integritas bangsa. Elemen pergerakan pemuda, yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, taruna, dan seterusnya dalam berbagai dedikasi meupun institusi di berbagai lini, mesti dipersatukan dalam common platform membangun kembali keindonesiaan kita.

Di negeri ini, intelektual (baca: mahasiswa) memiliki peran historis yang tidak bisa dianggap enteng. Tidak ada proses transformasi sosial yang tidak melibatkan mahasiswa di dalamnya. Dalam konteks ini, maka selama kurun satu dekade ini reformasi 1998 menjadi puncak pembuktian peran mahasiswa dalam perubahan sosial yang ada di Indonesia.

Dalam melihat wacana gerakan mahasiswa beserta fungsinya di masyarakat, ada baiknya kita menggunakan perspektif Gramscian sebagai pisau analisa dalam melihat realitas-realitas yangs edang dihadapi oleh gerakan mahasiswa. Gramsci melihat intelektual dapat dipahami sebagai penanaman semangat perubahan yang bertumpu pada aspek kognisi yang tanggap terhadap realitas. Gerakan intelektual ini dapat dibaca sebagai daya cipta yang terus- menerus, berhubungan secara dialektis dengan suasana sosial politik di zamannya.

Gramsci juga membagi intelektual ke dalam dua kategori; yaitu intelektual tradisional dan intelektual organik. Yang pertama adalah intelektual yang memfokuskan dirinya pada wacana-wacana yang hanya dimengerti oleh rekan-rekan sesama intelektual saja. Mereka tinggal dalam sebuah tempat yang terpisahkan oleh dinding yang tinggi dari realitas masyarakat yang ada. Dengan kata lainmereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di tengah masyarakat. Intelektual kedua adalah intelektual yang lahir secara organik di tengah-tengah masyarakat. Dia bisa siapa saja; mahasiswa, manager, ilmuwan, doktor, dan lain-lain.

Semoga kebangkitan pemuda harus benar-benar diiringi atas kesadaran bersama untuk menyelesaikan segala persoalan bangsa dengan cara yang luar biasa. Kita tentu berharap perubahan akan datang, dan kaum muda menjadi salah satu bagian yang tidak bisa dilupakan delam memperjuangkan rakyat, membela kebenaran, dan membangun Indonesia.

Sumber: BEMedia UI 2008

Sastra

on Rabu, 26 November 2008

Batu Itu Berbicara

Batu itu berbicara kepada saya, “Kamu sombong…”

Saya menjawab, “kamu lebih sombong, diam terpaku seolah bisa hidup sendirian…”

Batu itu bicara lagi, “ kamu tidak peka terhadap perasaan orang lain…”

Saya jawab lagi, “kamu lebih tidak peka, mematung di situ meski orang lain dalam kesedihan …”

Seseorang lewat di dekat saya kemudian mengatakan, “kamu gila, batu kok diajak bicara…”

***

Batu itu berbicara kepada saya, “kamu kejam…”

Saya menjawab, “kamu lebih kejam, telah mengajak saya bicara, sehingga saya dikira orang gila…!”

Batu itu tertawa terpingkal-pingkal….

Saya marah dan berteriak, “diaamm…!!”

Seseorang lagi lewat di dekat saya kemudian mengatakan, “kamu sudah hilang akal, marah pada sebongkah batu…”

***

Batu itu terus saja berbicara kepada saya, entah apa maunya

Saya membiarkan batu itu berbicara semaunya, tanpa mencoba menjawabnya,

Saya sudah lelah

Berapa lama batu itu bicara, tiba – tiba ia terdiam…

Saya pun masih terdiam, terus terdiam, entah hingga berapa lama saya dan batu itu terdiam,

Seseorang lewat di dekat saya kemudian mengatakan, “kamu sudah mati, batu itu masih terus bicara, tapi kamu tidak bisa mendengarnya…”

October 26th, 2008